Pages

Senin, 27 Februari 2012

Tak Kusangka

Oleh: Zuha Muhammad

Tak kusangka. Aku yang tak pernah lepas dari posisi tiga besar di tiap catur wulan semasa duduk di Madrasah Ibtida’iyah ini, bisa terpuruk di kelas yang sama selama dua tahun ketika duduk di kelas satu Madrasah Tsnawiyah. Itu terjadi pada tahun-tahun awal ketika merantau di penjara suci yang membuatku mendapat predikat santri. Hidup tak semudah yang kukira. Ternyata aku terlalu cepat lepas dari pengawasan Ayah dan Bunda. Aku terlalu dini untuk hidup mandiri.

Tak kusangka. Aku yang selama satu dekade dimanja oleh ketulusan Ibu dalam mengasih dan ketabahan Ayah dalam mendidik, kembali menumpahkan air tuba. Tepat di tahun keduaku duduk dalam bangku kelas yang sama, kelakuanku semakin menjadi-jadi. Sematan nakal sudah merupakan krama inggil untuk menyatakan perilakuku. Selalu keluar di malam hari, tak pernah berhenti tidur didalam kelas, kegiatan pondok yang selalu kutinggal, dan entah apa lagi yang telah kulakukan. Tinggal di kelas yang sama untuk ketiga kalinya hampir kualami, kalau tak ada syafaat yang datang.

Tak kusangka. Aku masih saja terlena dengan bujukan dan rayuannya. Sang keturunan iblis itu sangat pandai memainkan lidah. Entah apa yang dikatakannya waktu itu. Setoran masih lama lah. Lebih baik bersenang-senang saja lah. Aku yang sering jadi juara kelas lah. Dan entah apa lagi yang dilontarkannya. Tergiur oleh nikmatnya dunia yang dihembuskan, hafalan yang menjadi syarat kenaikan kelas pun tak kuhiraukan. Setelah hampir paruh tahun terkena rayuannya, aku sadar. Baru 70 bait nadhom yang kuhafal dari 600 bait yang menjadi syarat kenaikan kelas. Padahal sebelumnya, lebih dari dua tahun yang kubutuhkan untuk menyerap 500 bait yang menjadi syarat kenaikan di kelas satu.

Tak kusangaka. Rendah hati tak selalu berbuah manis. Kesempatan untuk bisa berorganisasi dari seorang teman tak ku gubris. Waktu itu aku berpikir bahwa ketika seorang ingin melakukan sesuatu, maka ia harus ahli di bidang yang ia jalani. Aku merasa tak mampu, walau sebenarnya hati ini ingin melakukannya. Pada akhirnya aku sadar bahwa aku masih dalam tahap pembelajaran. Karena itu tak apa kalau belum mampu karena tiap hal merupakan sebuah proses. Tapi apalah daya. Posisi itu sudah diisi oleh orang lain. Aku semakin sadar bahwa diri ini masih bukan apa-apa.

Tak kusangka. Sifat egois dan pragmatis selalu menyelimuti diri ini di masa silam. Aku tak rela mengeluarkan sedikit kocek untuk pembuatan majalah yang sebenarnya tak seberapa dibanding pengalaman yang akan kudapat. Aku juga tak rela melepas sedikit waktu yang sebenarnya sangat singkat dibanding panjangnya waktu di masa depan yang bisa kuringkas dengan jerih payah proses membangun kebersamaan di masa Aliyah. Aku saat itu terlalu takut untuk mencoba hal yang baru.

Tak kusangka. Kesalahan dalam pengambilan keputusan selalu kualami. Kegagalan hidup kudera bertubi-tubi. Hidup bagai tak berasa. Pergolakan hati telah membuat diri ini mati. Ditengah pesnitaan diri, aku teringat pesan Abah Yai.

Kehidupan masa lalu memang bisa menyakiti. Dan tiap tindakan pasti butuh kemantapan hati. Kamu bisa memilih untuk lari, atau belajar dan mengambil intisari dari apa yang telah kau alami”

Lalu, aku pun mulai belajar bersyukur.

Aku bersyukur pernah mengalami pahitnya tinggal kelas. Aku menjadi tahu bahwa segala hal membutuhkan persiapan yang matang. Lebih-lebih persiapan mental. Karena hal itu bisa membuat kepala tetap tegak di tengah kegagalan.

Aku bersyukur pernah menjadi most wanted di pondok pesantren tempatku menimba ilmu. Hal itu membuatku sadar akan dahsyatnya usaha yang disertai doa. Penundaan batas setoran hafalan sampai dua bulan yang kuterima tak akan kudapat, kalau sedikit saja aku menyerah dalam berbagai usaha dan lobi yang gencar. Usaha yang kukira gagal, ternyata membuahkan hasil. Aku pun sadar kalau itu berkat doa yang saban hari kudendangkan bagi Sang Ilahi Rabbi.

Aku bersyukur pernah terlena kembali untuk kesekian kalinya. Dengan itu aku sadar dengan tingginya potensi manusia. Aku tak menyadari hal itu sebelumnya. Yang kulakukan hanya setiap hari menekuni hafalan tiap ada waktu senggang. Takjub kurasakan saat tahu bahwa aku berhasil menyelesaikan 600 bait dalam tenggang waktu kurang dari enam bulan. Padahal sebelumnya lebih dari dua tahun yang dibutuhkan untuk menyerap bait yang jumlahnya lebih sedikit. Kurasakan potensi yang diberikan Tuhan pasti akan terasa bagi orang yang fokus dan bersungguh-sungguh dalam menggunakannya.

Aku bersyukur pernah menolak ajakan berproses dari teman seperjuangan. Hal tersebut membuatku sadar bahwa kesempatan yang sama tak akan datang dua kali. Aku juga masih sangat labil ketika itu. Kalau saja aku meng-iyakan ajaknnya, mungkin sifat takabur-ku membuncah karena merasa sudah menjadi orang yang dibutuhkan. Kalau aku menerima ajakannya, mungkin aku tak akan sadar bahwa aku adalah orang terakhir yang ditemuinya dalam rangka membangun bersama organisasi yang kuat waktu itu.

Aku bersyukur, pernah berlaku sangat egois dan pragmatis. Hal itu membuatku sadar bahwa pengorbanan adalah bukan ketika seseorang bisa melakukan berbagai hal besar. Tetapi pengorbanan adalah ketika seseorang bisa melakukan hal kecil di tengah keterpurukan yang bisa menopang dan menjaga hal-hal besar. Aku juga menjadi sadar bahwa aku harus malu ketika enggan melakukan hal kecil karena gengsi. Tak ada orang yang langsung bisa menjadi besar dan luar biasa super. Karena sepotong baju pun sebelumnya tak lebih dari seutas benang tipis tak berarti, yang akhirnya bisa berguna dan bisa melindungi karena mau bersatu dan berbagi.

Aku bersyukur masih menyadari bahwa saat ini aku masih belum apa-apa dibanding yang lain. Aku sadar masih sering melakukan banyak kesalahan. Aku tak boleh menyerah dan gundah, karena aku masih diberi nikmat bisa bersyukur. Aku bersyukur masih bisa belajar. Dan aku pun bersyukur masih bisa bersyukur.

Kamis, 23 Februari 2012

Menghidupkan Kembali Kematian


Judul : Kematian, Sebuah Risalah Tentang Eksistensi dan Ketiadaan

Pengarang : Muhamaad Damm

Halaman : xxvii + 124 hlm.

Penerbit : Kepik

Cetakan : Cetakan pertama November, 2011


Kematian masih merupakan misteri yang belum terpecahkan. Ia akhir dari kehidupan dan tak ada seorang pun yang pernah mengalami kematian. Masih ada kabut sangat tebal yang menyelubunginya. Selama ini, pengetahuan kita tentang kematian hanya sebatas si-A sedang sekarat (dying) atau telah mati. Tak ada yang pernah tahu seperti apa wujud kematian itu sendiri.

Mengapa harus membicarakan kematian? Mungkin sebagian dari kita berpikir mengapa tidak membahas perihal kehidupan saja? Masih banyak masalah kehidupan pelik yang belum terpecahkan. Namun, kesementaraan adalah hal yang tak bisa dieliminasi dari kehidupan manusia. Dan kematian adalah kejadian paling nyata yang memberikan konfirmasi atas kesementaraan itu. Adanya kematian sejelas adanya diri kita. Atas dasar inilah Muhammmad Damm menulis sebuah buku, Kematian, Sebuah Risalah Tentang Eksistensi dan Ketiadaan.

Buku ini merupakan pengembangan dari skripsi Muhammad Damm yang meluluskannya menjadi sarjana Filsafat Universitas Indonesia (UI) dengan predikat cum laude. Dengan menggunakan pisau filsafat, ia menjelaskan arti sesungguhnya dari apa yang dinamakan kematian.

Ketika seseorang dinyatakan mati dan kehilangan nyawa, apa yang membedakannya dengan kematian seekor hewan dan sebatang tumbuhan? Hal itu adalah kemampuan untuk “mengada”. Selain tubuh yang bernyawa, manusia juga mempunyai tubuh sosial yang membuatnya bisa “mengada” dengan berinteraksi dengan manusia lain. Tubuh yang bernyawa yang disebut tubuh korpereal merupakan wadah bagi tubuh sosial. Ketika tubuh korporeal seseorang tak lagi bernyawa yang mengakibatkan tubuh sosial tak lagi bekerja, maka ia telah mengalami kematian yang sebenarnya. Yaitu yang disebut dengan kematian eksistensial: sebuah keadaan hilangnya kemampuan untuk berbuat dan mengada.

Sebelum menjelaskan tentang kematian dan kematian eksistensial, dalam buku ini, Muhammad Damm lebih dulu menjelaskan tentang arti manusia dan eksistensi. Menurutnya, manusia adalah makhluk tanpa sifat alamiah, karena semua tindak tanduknya dibentuk oleh masyarakat berdasarkan norma-norma yang mengikat. Tetapi ini bukan berarti seseorang tak bisa menjadi dirinya sendiri. Hal ini lebih dikarenakan manusia dan masyarakat adalah hal yang tak bisa dipisahkan. Manusia bisa mengada kalau sudah berada dalam suatu tatanan masyrakat. Sebaliknya masyarakat pun bisa ada karena manusia yang membangunnya.

Membaca buku ini tak akan menghasilkan pemahaman yang lengkap apabila tak membacanya dari awal. Ini dikarenakan ada beberapa diksi yang pemaknaannya berbeda dengan apa yang diketahui orang kebanyakan. Seperti “kebenaran” yang disama artikan dengan nilai, “pengetahuan” yang “kebenaran” yang terus dilakukan sehingga menjadi sebuah kebisaan, dan “interupsi” yang berarti hal-hal yang terjadi dalam masyarakat diluar kebiasaan dan rutinitas, seperti bencana dan lain sebagainya.

Buku ini termasuk buku yang ringan untuk kategori buku pemikiran filsafat. Muhammad Damm sangat pandai memilih kosakata dalam menjelaskan pemikirannya. Pembaca tak akan sering mengernyitkan dahi atau membaca berulang kali untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh. Sehingga buku ini bisa dikonsumsi oleh berbagai kalangan.


Alhamdulillah, telah dimuat di Koran Jakarta pada Rabu, 22 Februari 2012

Klik disini untuk melihat tulisan yang dimuat.

Selasa, 27 Desember 2011

Re-Orientasi Tugas Mahasiswa

Agent of social change, tiap mahasiswa pasti sangat familiar dengan sebutan itu. “Agen perubahan sosial”, itulah tugas utama yang diemban siswa yang telah menjadi maha, atau lebih tepatnya tugas yang disematkan secara paksa oleh para aktifis pergerakan, terutama dalam acara orientasi pengenalan akademik dan kemahasiswaan yang diperuntukkan mahasiswa baru. Entah sadar atau tidak, doktrin itu telah tertancap di lubuk hati para mahasiswa.
Kalau yang dimaksud dengan agen perubahan sosial di sini adalah tindakan yang bisa dirasakan oleh masyarakat pada umumnya, faktanya mahasiswa memang pernah mempunyai kekuatan untuk melakukan hal tersebut. Kekuatan yang sanggup menggulingkan pemerintahan mantan presiden Soeharto 1997 silam. Tapi titel agent of social change untuk mahasiswa sebenarnya terlalu dibesar-besarkan. Titel itu seolah-olah menjustifikasi bahwa mahasiswa lah satu-satunya agen perubahan. Kalau penggulingan soeharto dijadikan bukti konkrit kekuatan mahasiswa dalam melakukan hal tersebut, tetapi fakta pula yang menunjukkan setelah peristiwa itu tak pernah ada lagi aksi mahasiswa yang bisa dibilang memberikan dampak yang besar.
Sebelum menjadi mahasiswa, tiap mendengar kata mahasiswa hanya ada satu pikiran yang terlintas di benak penulis: tukang demo. Itu memang fakta dan memang tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa, terutama mahasiswa pergerakan, sangat identik dengan demo. Setelah menjadi mahasiswa penulis lebih tahu bahwa ternyata hanya segelintir orang saja yang suka demo dan rata-rata mereka merupakan mahasiswa pergerakan. Mereka merasa memiliki misi suci yang ingin mereka wujudkan demi Indonesia yang lebih baik.
Tetapi berbagai demo yang mereka lakukan, yang dimaksudkan ingin membela rakyat kecil, terkadang tanpa mereka sadari juga menyusahkan kaum yang mereka bela. Almarhum Sondang Hutagulung, aktivis luar biasa yang meninggal karena membakar diri di depan istana presiden pun tidak luput dari kritik semasa hidupnya. Ia pernah diingatkan oleh Pirto Hutagulung, ayahnya sendiri yang bekerja sebagai sopir angkot bahwa demo yang dilakukannya mengganggu ketertiban lalu lintas dan itu sangat berdampak pada penghasilan sopir angkot. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan sosial yang ingin mereka capai juga mempunyai dampak buruk terhadap sebagian kalangan. Kalau pun mereka beralasan setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan, tetapi demo bukan satu-satunya jalan dalam melakukan perubahan sosial. Apabila terpaksa melakukan demo, harus dipikirkan cara yang tidak mengganggu ketertiban umum.
Penulis berasumsi bahwa demo yang mereka lakukan merupakan imbas dari aksi mahasiswa pada waktu reformasi. Dampak luar biasa dari peristiwa itu seperti dalil kuat yang mendorong aksi demo para mahasiswa. Padahal sebetulnya demo tahun 1997 dulu bukan sekedar demo. Demo itu merupakan puncak dari usaha mahasiswa yang bersatu untuk melawan pemerintahan yang tirani. Dalam arti demo itu bisa melahirkan perubahan sosial yang besar karena telah menghabiskan waktu yang panjang dan tujuan (musuh:red) mereka jelas. Setelah peristiwa itu Agent of Social Change menjadi populer dan disematkan secara khusus kepada mahasiswa.
Beberapa hal itu merupakan sekian dari dampak doktrinasi agent of social change. Titel yang dikhususkan kepada mahasiswa itu sebaiknya dihilangkan. Toh nyatanya para pejabat yang melakukan korupsi dulunya juga mahasiswa. Berita di berbagai surat kabar tentang PNS muda yang memiliki rekening gendut, dulunya juga mahasiswa. Hal ini bisa dikatakan lucu bahwa para koruptor merupakan hasil dari mahasiswa yang notebene merupakan agen perubahan sosial. Mungkin karena doktrin yang mereka pahami bahwa mahasiswa merupakan agen perubahan sosial, sehingga mereka yang sudah bukan mahasiswa sudah tidak mempunyai kewajiban untuk melakukan hal tersebut. Padahal sebenarnya bukan hanya mahasiswa yang mempunyai tanggungan itu.
Iklan bertema Agen Perubahan Sosial merupakan tugas bersama harus digaungkan. Tugas melakukan perubahan sosial terlalu berat untuk diemban mahasiswa. Itu bukan dikarenakan mahasiswa saat ini lebih lemah dari sebelumnya. Hal itu bertujuan untuk menyadarkan masyarakat bahwa melakukan perubahan sosial bukan semata tugas mahasiswa, tetapi tugas setiap elemen masyarakat. Hal itu harus dilakukan apabila ingin menciptakan indonesia yang lebih baik.

(Tulisan ini pernah dimuat dalam buletin El-Fikry edisi ke-4 Desember 2011 yang diterbitkan oleh PMII Rayon Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang).